Judul Posting STAIS Berias Diri sampai tulisan ini dipublikasikan dirasa merupakan pilihan tepat dari sekian banyak nominasi judul posting yang pernah terpikirkan penulis. “Berias Diri”, bermakna integral; organism yang menyusun diri dari dalam serta untuk dirinya sendiri (STAIS). Makna ini sekaligus menggambarkan sens of belonging dari para Dosen, Karyawan, Mahasiswa dan BEM STAIS. Dari mereka yang mengharu biru dalam “perjuangan” memperindah STAIS, mempercantik tampilan kampus tercintanya.
Bagaimana tidak, lihatlah..! di STAIS tidak peduli Puket (Pembantu Ketua), Kajur, Sekjur, Mikwa, Dosen, Kaparpus, karyawan, BEM dan civitas kampus lainnya, turun menyingsingkan lengan baju, melipat baju dinas menggantinya dengan baju kerja, menyingkirkan sepatu Pakalolo dari kaki, menggantinya dengan sepato Bot merk Ando. Mereka rela berkeringat, berkotor ria dengan lumpur rawa yang telah tercampur dengan bau dedaunan yang membusuk.
***
STAIS memang masih muda, baru berusia 2 tahunan, semenjak dideklarasikan sebagai kampus yang otonom pada 2007 yang lalu dengan SK Dirjen Pendis Depag RI dan ijin operasional STAIS Kutim dengan Nomor Dj. I/177/2007 tertanggal 20 April 2007. Ibarat anak manusia, pada usianya yang ke-3 tahun ini semestinya STAIS mendapatkan kasih sayang yang melimpah. Tidak karena STAIS mengharapkannya, tetapi sebaliknya, lebih-lebih karena setiap orang yang ada di STAIS menyayanginya, melihatnya sebagai bayi perguruan Tinggi yang apabila dipupuk dan dibesarkan dengan cinta, niscaya besar sebagai Barometer bagi kampus di Indonesia, bahkan di dunia.
***
Hujan berintik turun di pagi penghujung tahun 2008. Airnya memang tidak seluruhnya membasahi bumi Kutai Timur, namun cukup menjadi alasan bagi warga Kutim bermalas ria dan lebih memilih menaikkan kembali selimut yang melorot di pagi itu dari pada melipatnya dan memulai beraktifitas.
Pagi itu pukul 08.30 WITA, Puket I STAIS Amir Tajrid, MA, tampak berbasah ria di antara genangan air yang tidak juga diserap tanah bumi etam sejak semingguan ini. “Mas ayo mindah Tandon air”, tandasnya dengan bahasa dan logat ala jawa tengahan. Kebetulan ‘siempunya’ kerja (Ir. Pembangunan, saya sebut demikian), Ruri dan Bambang keduanya dalah orang jawa.
Siang menjelang sore dua tandon besar penampung air telah berpindah tempat, bergeser 20 meteran, mengisi lokasi kosong didepan Perpustakaan. Pukul 16.00 Wita, di hari Selasa (30/12), 6 tenaga kerja dadakan sedang menikmati esteler yang hadir untuk mengusir sekian lelah yang menumpuk setelah seharian tadi mengerjakan proyek aksidental mereka. Tenaga-tenaga itu dapat disebutkan, Puket I, Kasubag Laboratorium, Kaparpus, Kasubag Umper, dan 2 tenaga profesional dari Samarinda.
***
Tahun Baru 2009
Apa yang baru?. Tentunya setiap orang, setiap kelompok masyarakat dan kelompok usia dan golongan mengartikan pergantian tahun sesuai dengan kapasitas, tingkat mental dan keilmuan mereka. Entah, yang jelas menyebutkan seribu satu definisipun belum tentu merepresentasikan makna yang ada di tahun baru 2009 ini.
Di STAIS, apa yang baru?. Jangan heran, di sini mengartikan tahun baru lebih berarti aktualisasi ketimbang teori. Lihat saja, menyambut tahun baru ini segudang proyek harus dikerjakan secara bersamaan, meliputi pembuatan Lapangan bulu tangkis, Futsal, dan pembuatan Gazebo. Kebetulannya semua proyek ini muncul dari ide-ide kreatif para dosen, karyawan dan BEM STAIS di Tahun 2009 ini.
Bersambung ke GAZEBO FORUM