Penerbitan Jurnal Ilmiah “Manahij” STAIS Kutim Edisi Perdana
PENGANTAR REDAKSI
Pembaca yang budiman,

Tampilan Front Cover Jurnal Ilmiah Manahij STAIS Kutai Timur Edisi Perdana
Dengan ucapan Alhamdulillah, redaktur jurnal Ilmiah “MANAHIJ” senantiasa memanjatkan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga terbit edisi pertama jurnal ilmiah ini. Demikian, Sholawat dan Salam senantiasa terlimpahkan ke Pangkuan Rasullullah SAW yang telah banyak memberikan spirit peradaban kepada umatnya.
Jurnal Ilmiah “MANAHIJ” memiliki motto “Berfikir Kritis-Transformatif”, dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Sengata (STAIS) Kutai Timur Kaltim ini merupakan edisi perdana yang diharapkan mampu hadir lebih excellent dan bisa memenuhi hasrat ilmiah-intelektual para pembacanya, baik mahasiswa, dosen, para pecinta ilmu lainnya di Kutai Timur Kalimantan Timur pada khususnya, dan masyarakat luas pada umumnya.
Edisi perdana, Vol. 1 No. 1, Mei 2008 jurnal “MANAHIJ” ini mengetengahkan grand tema tentang ” Revitalisasi Pendidikan Islam” . Tema tersebut dipilih atas dasar pemikiran agar pada edisi ini, pembaca mendapatkan suguhan tulisantulisan ilmiah seputar pendidikan Islam yang bersifat studi pemikiran, implementatif-operasional, hingga studi kebijakan pendidikan secara luas. Hal tersebut diangkat sebab kesesuaian dengan misi STAIS Kutai Timur sebagai Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), persoalan pendidikan sampai sekarang juga tetap menjadi diskursus yang cukup menarik. Pada edisi ini, Jurnal “MANAHIJ” hadir dengan beberapa tulisan baik berasal dari para dosen STAIS Kutai Timur, dosen beberapa perguruan tinggi lain dan praktisi pendidikan.
Pada tulisan pertama, Prof. Dr. Hj. Siti Muri’ah hadir dengan “Pendidikan dalam prespektif Islam; Konsepsi dan Operasionaliasinya”. Tulisan ini memberikan prespektif pendidikan secara konseptual menurut Islam dan operasionalisasinya dalam berbagai aspek dan komponen pendidikan. Menurutnya, pendidikan Islam adalah model pelaksanaan pendidikan yang dilandasi nilai-nilai ajaran Islam. Hal ini sekaligus, membedakan dengan model-model pendidikan di luar Islam. Untuk itu, merefleksikan nilai-nilai kependidikan yang terdapat dalam al Qur’an dan al-Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam adalah sebuah keniscayaan, terutama ajaran tentang pemberdayaan manusia. Nilai-nilai yang ada diharapkan bisa termanifestasikan dalam setiap komponen pendidikan, mulai dari tujuan, fungsi, kurikukum, metode, hingga relasi pendidik dan peserta didik.
Pendidikan Islam yang secara konseptual diilhami ruh ajaran Islam sebagaimana di atas dalam realitasnya berkembang dalam banyak ragam model. Ragam model tersebut sejatinya diakibatkan dari ragam paradigma umat Islam dalam mengartikulasikan nilai-nilai Islam dengan kebutuhan zaman yang mengitarinya. Hal inilah yang menjadi concern tulisan Ahmad Muthohar AR, M.S.I. melalui tulisan kedua dengan judul “Paradigma Pendidikan Islam Emansipatoris: Ikhtiar Merelevansikan Pendidikan Islam di Tengah Modernitas”. Pada tulisan ini, Ahmad Muthohar berpandangan bahwa pada dasarnya kemunculan banyak model operasionalisasi pendidikan disebabkan adanya varian konstruksi paradigmatik yang mengitari umat Islam.
Paradigma Islam Emansipatoris yang menjadi fokus kajian ini merupakan tawaran paradigmatik baru yang dimungkinkan dapat dipakai pendidikan Islam di era modern. Kehadirannya merupakan bentuk respon dan refleksi atas ragam paradigma yang telah ada sebelumnya, seperti formalistik, tradisionalistik dan modernis yang cenderung masih bersifat vis a vis, dikotomik dan kurang dapat memberikan makna liberasi terhadap problem nilai kemanusiaan yang dialami umat Islam. Guna merespon fenomena modernitas, pendidikan Islam saat ini memerlukan sebuah paradigma pendidikan yang lebih liberatif, kritis dan transformatif.
Penulis Ketiga, Khojir, M.SI menulis tentang “Tradisional Dan Modern Pendidikan Islam; Studi Komparatif Antara Pemikiran Hasyim Asy’ari Dan Ahmad Dahlan. Dalam tulisannya, Khojir menghadirkan beberapa konsepsi tentang pendidikan Islam dari dua tokoh besar yang mewakili dua kutub besar organisasi kelslaman di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Menghadirkan pemikiran pendidikan keduanya, diharapkan bisa memberikan inspirasi pembaca untuk menemukan suatu titik perbandingan dan bisa mengilhani desain pendidikan saat ini.
Pada edisi ini, para pembaca juga bisa menemukan tulisan tentang “Eksistensi Madrasah di Indonesia: Historisitas Dan Perkembangannya, yang ditulis oleh Lilik Andaryuni, M.SI. Sebagaimana diketahui, Madrasah merupakan salah satu model pendidikan Islam yang eksisten sinya cukup mewarnai pendidikan di Indonesia. Madrasah hadir sebagai jawaban atas kemandegan pendidikan Islam yang dikelola secara tradisional selama ini. Kehadirannya diharapkan bisa menjadi jawaban bagi dunia pendidikan Islam dalam beradaptasi dengan struktur dan sistem modernitas. Namun, yang menjadi catatan Lilik adalah seyogyanya madrasah tetap berkomitmen pada jalur nilai-nilai kelslaman melalui aktivitas pendidikan, sehingga justru tak tergerus oleh modernisme itu sendiri.
Selain bernuansa studi pemikiran pendidikan Islam, edisi ini juga mengulas studi implementatif-operasional pendidikan Islam. Hal ini bisa dibaca dalam karya Dr. HM. Ilyasin yang menyuguhkan tulisan tentang “Sekolah Islam Terpadu; Potret Pengembangan Kurikulum Untuk Peningkatan Mutu Pedidikan”. SDIT merupakan potret dari sebuah inovasi pendidikan Islam di era modern yang sedang marak saat ini. Model ini diharapkan bisa menjadi suatu model pendidikan Islam mampu memadukan dua misi besar pendidikan, yakni transinternalisai nilai-nilai ilahiyah dan nilai-nilai dunia kemodernan. Struktur dan desain pembelajaran Sekolah Islam Terpadu dapat pembaca temukan dalam tulisan ini.
Demikian juga, tulisan seputar Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (PTAIS) bisa pembaca kaji melalui tulisan Zamroni, M.Pd melalui ” Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta; Analisis Kebijakan dan Problematika Pendidikan di PTAIS”. Gagasan yang usung penulis dalam tulisan ini adalah perlunya partisipasi banyak pihak untuk bisa mendesain perguruan tinggi Islam secara lebih maju. Salah satunya adalah tentang perlunya reformasi kebijakan penanganan PTAIS. Di samping, penulis juga memaparkan berbagai problematika yang mengitari dunia PTAI dan strategi pengelolaannya.
Tulisan menarik lain bisa ditemui dari ulasan M. Iwan Abdi, M.SI tentang “Desentralisasi Pendidikan di Era Otonomi Daerah”. Karya ini memiliki fokus studi pada program Kutim Cemerlang yang dicanangkan oleh pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Dalam catatannya, program ini bisa menjadi contoh di banyak daerah di Indonesia dalam mengimplementasi kebijakan daerah dalam mengelola pendidikan. Desentralisasi hakekatnya merupakan ruh dari reformasi pendidikan itu sendiri, dimana daerah secara leluasa bisa membangun pendidikannya sesuai dengan karakteristik dan potensinya. Sehingga, generasi mendatang tidak menjadi generasi yang tercerabut dari akar sosiologisnya.
Satu tema lain yang tak luput dari bidikan edisi ini adalah tentang profesionaliseme guru. Profesionalisme merupakan suatu keniscyaan bagi sebuah mutu. Demikian pula, tatkala pendidikan ingin berkualitas, maka peningkatan profesionalisme guru merupakan hal yang tak terhindarkan. Tulisan
Muhammad Abzar, M.Ag tentang “Profesionalisasi Guru di Era Globalisasi” bisa mewakili keinginan pembaca untuk mengkaji soal ini. Di era global menurut penulis, guru membutuhkan beberapa kriteria untuk bisa disebut profesional agar perannya sebagai agen perubahan bisa tercapai.
Satu lagi tulisan yang masih terkait dengan tema profesionalisme guru adalah tulisan praktisi pendidikan, Titi Kadi, S.Ag. yang menghadirkan kajian tentang “Plus-Minus Sertifikasi Guru”. Bahasan ini cukup Up to date, sebab saat ini banyak guru sedang ‘berjuang’ untuk memperoleh pengakuan profesi sebagai tenaga pendidik. Namun menurut penulis, masih banyak fenomena bahwa sertifikasi sebatas dipahami sebagai prosedur untuk mendapat tunjangan profesi. Menurutnya, sertifikasi hendaknya dipahami secara proporsional sebagai salah satu cara bagi kalangan pendidikan untuk bisa membuktikan diri sebagai tenaga pendidikan yang profesional.

Tampilan Back Cover Jurnal Ilmiah Manahij STAIS Kutim Edisi Perdana
Demikianlah, gambaran singkat dari tulisan-tulisan yang hadir pada edisi ini. Guna mengetahui clan mengkaji lebih jauh, dipersilakan para pembaca untuk menyimak satu per satu tulisan yang ada dalam edisi ini. Akhirnya, redaktur Jurnal Ilmiah “MANAHIJ” mengucapkan terima kasih atas bantuan banyak pihak sehingga edisi perdana ini bisa hadir di hadapan pembaca. Redaktur juga mohon maaf atas segala kekurangan dari edisi ini. Sehingga, saran konstruktif senantiasa terbuka guna perbaikan pada edisi-edisi mendatang. Selamat Membaca !
Sengata, 2008
Pimpinan Redaksi
Ahmad Muthohar, MSI