Dari Kuliah Umum Sekolah Tinggi Agama Islam Sengata (1)
Pendidikan Islam Menjawab Tantangan Zaman
(Refleksi Pemikiran Prof. DR. H. Kamrani Buseri, MA)
Pendidikan Islam dapat diamati dari dua sisi. Pertama pendidikan Islam Sebagai sebuah disiplin ilmu. Sedangkan yang kedua sebagai realitas proses pendidikan agama di sekolah. Pendidikan Islam sebagai sebuah ilmu memiliki objek materi yang sama dengan pendidikan umum, yakni manusia. Hal itulah yang membedakan secara mendasar antara pendidikan agama Islam dengan pendidikan lainnya. Demikian diungkapkan Profesor Kamrani Buseri pada kuliah umum Sekolah Tinggi Agama Islam Sengata, pekan lalu. Perbedaan memandang manusia itu pula yang melahirkan perbedaan dalam memandang tujuan dari pendidikan.
Pendidikan Islam dalam sejarahnya telah mampu melahirkan masyarakat muslim yang maju, kebudayaan yang tinggi disertai sopan santun dan berakhlak mulia. Semenjak fase pertama, fase Rasulullah perkembangan ilmu pengetahuan terus berkembang pesat hingga di zaman Bani Abbas, Bani Fatimah, dan Bani Ummayah di Spanyol. Terdapat tiga kota terkenal sebagai pusat ilmu yakni Bagdad, Kairo, dan Cordova, kata Kamrani Buseri. Akan tetapi di zaman Bani Saljuk (Turki), mereka anti Syiah dan tidak mau menerima banyak mazhab dalam agama. Orang-orang mulai takut dengan pembaharuan, dan hal demikian sangat berpengaruh terhadap mundurnya perkembangan kehidupan masyarakat dan kebudayaan muslim. Kemunduran terus berlangsung dengan munculnya suku-suku Barbar Mongol dan menghancurkan kota peradaban Bagdad. Kenyataan terakhir inilah yang semakin memperburuk perkembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan di dunia Islam, lanjutnya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat menghantarkan manusia kepada berbagai kemudahan. Begitu pula perkembangan yang sangat pesat di bidang teknologi informasi berdampak besar terhadap perubahan perilaku manusia. Ada banyak nilai ikutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti munculnya paham sekuler, positivis, pragmatis, hedonis permissif, dan menjauhkan manusia dengan Tuhan. Semua itu merupakan tantangan zaman yang perlu mendapatkan perhatian para pendidik muslim meliputi pemahaman konsep teoritis, proses pendidikan agama dan keagamaan masih banyak kelemahan dan kekurangannya.
Pendidikan agama lebih kepada ranah kognitif dan psikomotorik, kurang kepada ranah afeks. Bukan menanamkan nilai keagamaan yang direfleksikan dalam sikap dan menjelma pada prilaku sehari-hari, seperti di siplin dalam beribadah, dan berakhlah mulia, bersikap jujur, sabar, ikhlas, suka menolong, tidak serakah, penuh sopan santun dan pemalu serta menjauhi hal hal yang dilarang olah agama,” paparnya, Selain itu, di kalangan remaja saat ini berkembang sikap ambigu. Remaja di satu sisi taat menjalankan perintah agama terutama yang bersifat ritual dan serimonial seperti salat, pengajian dan ikut ambil bagian dalam peringatan hari-hari besar Islam, tetapi di sisi lain juga mengerjakan hal-hal di luar agama, seperti pacaran dan pergaulan bebas Fenomena serupa itu menunjukkan. bahwa sebagian generasi muda masih belum mampu menyusun hirarki nilai dalam suatu sistem yang dianut, sekaligus juga menunjukkan gejala kegagalan pendidikan nilai keagamaan itu sendiri (Kaltim Post, 1 September 2008).
